Masih Ada Ancaman Bom

JAMAAH salat Jumat di Masjid Mapolresta Cirebon kocar kacir saat sebuah bom meledak. Tidak tanggung-tanggung bom meledak di deretan depan jamaah. Kapolresta Cirebon AKBP Herukoco pun mengalami luka serius karena ternyata bom itu berisikan paku, mur, dan benda mematikan lainnya. Satu orang tewas, yang diduga pelaku bom bunuh diri, M Syarif.

Salah satu stasiun televisi swasta melakukan wawancara kepada orangtua M Syarif. Di sana banyak terungkap. Layaknya orangtua, sang bapak, mengaku sangat sedih jika anaknya mati dengan cara meledakkan bom bunuh diri. Tidak ada yang bisa dibanggakan. Menurut sang bapak, dia akan bangga, jika anaknya gugur untuk membela negara bukan untuk menghancurkan negara ini.

Di sini bisa dilihat bahwa banyak sekali teroris di negeri ini tidak pernah diamini perilakunya oleh keluarganya. Mereka mengaku tidak tahu menahu kenapa kakaknya, adiknya, anaknya, atau suaminya, bisa melakukan upaya teror itu.

Ledakkan bom di Mapolresta Cirebon seakan membuka mata kita bahwa teror belum berakhir. Masih saja kelompok-kelompok garis keras mencoba mencabik-cabik ketenteraman negeri ini. Dan yang patut digaris bawahi adalah memang sulit untuk membunuh ideologi. Karenanya pantas kiranya perlu dilakukan langkah sistematis untuk terus melakukan counter ideologi terorisme ini. Pemahaman kerukunan baik internal sesama pemeluk agama dan antarpemeluk agama pantas didengungkan kembali.

Mengacu pada wikipedia, ideologi didefinisikan sebagai kumpulan ide atau gagasan. Kata ideologi sendiri diciptakan oleh Destutt de Tracy pada akhir abad ke-18 untuk mendefinisikan “sains tentang ide”. Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang segala sesuatu, secara umum dan beberapa arah filosofis, atau sekelompok ide yang diajukan oleh kelas yang dominan pada seluruh anggota masyarakat. Tujuan utama dibalik ideologi adalah untuk menawarkan perubahan melalui proses pemikiran normatif. Ideologi adalah sistem pemikiran abstrak (tidak hanya sekadar pembentukan ide) yang diterapkan pada masalah publik sehingga membuat konsep ini menjadi inti politik. Secara implisit setiap pemikiran politik mengikuti sebuah ideologi walaupun tidak diletakkan sebagai sistem berpikir yang eksplisit.

Melihat hal itu, kerangka ide Bhinneka Tunggal Ika sangat relevan untuk menjawab fenomena ini. Meski berbeda-beda suku, berbeda agama, berbeda keyakinan, berbeda partai, tetap saja satu sebagai bangsa Indonesia. Ideologi kebangsaan inilah yang harus terus ditumbuhkembangkan.

Ideologi kiranya hanya bisa dilawan dengan ideologi. Kalau ideologi hanya dilawan dengan kekerasan, maka hal itu tidak akan menyelesaikan masalah hingga akarnya. Suatu saat, ketika musim berganti, ketika rezim berganti, maka persemaian ideologi itu akan muncul kembali.

Jadi sepatutnyalah pemerintah dan otoritas lainnya melakukan counter ideologi. Ideologi keagamaan yang mengedepankan kekerasan harus dilawan dengan ideologi keagaaman yang santun, lemah lembut, dan rahmatan lil alamin (agama sebagai rahmat seluruh alam). Agama bukan alat untuk membunuh dan menghancurkan. Agama adalah alat untuk mencapai kesempurnaan hidup di dunia dan di akherat kelak. Dengan agama, hidup akan menjadi tenteram.

M Budi Santosa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: