Candi Sukuh, Peninggalan Budaya di Ambang Keruntuhan Majapahit


CANDI Sukuh tak hanya dikenal karena keindahan bangunannya yang unik, tetapi juga kekontroversialan bangunan dengan memerlihatkan objek lingga dan yoni yang melambangkan simbol seksualitas.

Pesona Candi Sukuh memang sangat menggoda. Candi yang berada di lereng Gunung Lawu dan berada pada ketinggian kurang lebih 1.186 meter di atas permukaan laut ini ini terletak di Dukuh Berjo, Desa Sukuh, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah atau berjarak kurang lebih 20 kilometer dari Kota Karanganyar dan 36 kilometer dari Surakarta.

Candi yang diperkirakan berdiri pada 1437 masehi atau pertengahan abad 15 ini menawarkan kesan kesederhanaan yang mencolok pada para pengunjung yang hadir. Kesan tersebut sungguh berbeda dengan yang didapatkan dari candi-candi besar di Jawa Tengah lainnya, yakni Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Bentuk bangunan Candi Sukuh cenderung mirip dengan peninggalan budaya Maya di Meksiko atau peninggalan budaya Inca di Peru. Struktur ini juga mengingatkan para pengunjung akan bentuk-bentuk piramida di Mesir.

Arkeolog termahsyur Belanda, WF Stterheim pada 1930 mencoba menjelaskannya dengan memberikan tiga argumen. Pertama, kemungkinan pemahat Candi Sukuh bukan seorang tukang batu melainkan tukang kayu dari desa dan bukan dari kalangan keraton. Kedua, candi tersebut dibuat dengan agak tergesa-gesa sehingga terkesan kurang rapi. Ketiga, keadaan politik kala itu di mana menjelang keruntuhan Majapahit, tidak memungkinkan para pemahat Candi Sukuh untuk membuat candi yang besar dan megah.

Begitu masuk pintu utama pengunjung akan dihadapkan pada sebuah gapura terbesar yang memiliki bentuk arsitektur khas. Gapura yang biasanya berbentuk tegak lurus tersebut justru berbentuk agak miring dan berbentuk trapesium dengan atap di atasnya. Batu-batuan di candi ini berwarna agak kemerahan sebab batu-batu yang dipakai adalah jenis andesit.

Di dalam candi Hindu ini, bangunannya memiliki tiga teras yakni njobo (luar), njobo tengah (tengah) dan njeron (dalam). Pada teras pertama terdapat gapura utama di mana terdapat sebuah sangkala dalam bahasa Jawa yang berbunyi gapura buta abara wong. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gapura sang raksasa memangsa manusia”. Kata-kata ini memiliki makna 9, 5, 3, dan 1. Jika di balik, maka didapatkan tahun 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi.

Pada teras kedua, bangunannya sudah rusak sehingga jika biasanya di bagian kanan dan kiri gapura terdapat patung penjaga pintu atau dwarapala, didapati pula, namun dalam keadaan rusak dan sudah tidak jelas bentuknya lagi. Gapura sudah tidak beratap dan pada teras ini tidak dijumpai banyak patung-patung. Namun pada gapura ini terdapat sebuah candrasangkala pula dalam bahasa Jawa yang berbunyi gajah wiku anahut buntut. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gajah pendeta menggigit ekor”. Kata-kata ini memiliki makna 8, 7, 3, dan 1. Jika di balik maka didapatkan tahun 1378 Saka atau tahun 1456 Masehi. Jadi jika bilangan ini benar, maka ada selisih hampir dua puluh tahun dengan gapura di teras pertama.

Pada teras ketiga ini terdapat pelataran besar dengan candi induk dan beberapa relief di sebelah kiri serta patung-patung di sebelah kanan. Jika para pengunjung ingin mendatangi candi induk yang suci ini, maka batuan berundak yang relatif lebih tinggi daripada batu berundak sebelumnya harus dilalui. Selain itu lorongnya juga sempit. Konon arsitektur ini sengaja dibuat demikian. Sebab candi induk yang mirip dengan bentuk Miss V ini, menurut beberapa pakar memang dibuat untuk mengetes keperawanan para gadis. Menurut cerita, jika seorang gadis yang masih perawan mendakinya, maka selaput daranya akan robek dan berdarah. Namun apabila ia tidak perawan lagi, maka ketika melangkahi batu undak ini, kain yang dipakainya akan robek dan terlepas.

Tepat di atas candi utama di bagian tengah terdapat sebuah bujur sangkar yang kelihatannya merupakan tempat menaruh sesajian. Di sini terdapat bekas-bekas kemenyan, dupa dan hio yang dibakar, sehingga terlihat masing sering dipergunakan untuk bersembahyang.

Kemudian pada bagian kiri candi induk terdapat serangkaian relief-relief yang merupakan mitologi utama Candi Sukuh dan telah diidentifikasi sebagai relief cerita Kidung Sudamala. Di bagian kanan, terdapat pula dua buah patung Garuda yang merupakan bagian dari cerita pencarian tirta amerta (air kehidupan) yang terdapat dalam kitab Adiparwa, kitab pertama Mahabharata.

Selain candi utama dan patung kura-kura, garuda serta relief-relief masih ditemukan pula beberapa patung hewan berbentuk celeng (babi hutan) dan gajah berpelana. Pada zaman dahulu para ksatria dan kaum bangsawan berwahana gajah.

Lalu ada pula bangunan berelief tapal kuda dengan dua sosok manusia di dalamnya, di sebelah kira dan kanan yang berhadapan satu sama lain. Ada yang berpendapat bahwa relief ini melambangkan rahim seorang wanita dan sosok sebelah kiri melambangkan kejahatan dan sosok sebelah kanan melambangkan kebajikan. Namun hal ini belum begitu jelas.

Kemudian ada sebuah bangunan kecil di depan candi utama yang disebut candi pewara. Di bagian tengahnya, bangunan ini berlubang dan terdapat patung kecil tanpa kepala. Patung ini oleh beberapa kalangan masih dikeramatkan, sebab sering kali diberi sesajian.

Secara keseluruhan, filosofi yang tergambar dalam Candi Sukuh merupakan perjalanan hidup manusia dari awal hingga akhir kehidupan. Saat awal dilahirkan, manusia dilimpahi karakter baik dan buruk dan dalam perjalanannya kedua karakter tersebut saling bersinergi dan bahkan salah satunya mendominasi kuat sebagai karakter diri seseorang tersebut. Namun ketika kita hendak kembali ke asal (nirwana), segala sisi negatif yang terangkum lewat perilaku buruk kita pun perlu diruwat seperti yang tergambar dalam relief Kidung Sudamala mengingat prasayarat untuk kembali ke asal adalah jiwa kita harus bersih bak saat lahir dulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: