Sepenggal Catatan dari PDS HB Jassin

PEKAN kemarin, HB Jassin menjadi pusat pergunjingan di media massa, baik cetak maupun elektronik tak terkecuali media online di antara isu politik nasional. Di sejumlah milis pun ramai dibicarakan. Puncaknya secara terbuka Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengutarakan permintaan maafnya, sedangkan di sejumlah kampus para aktivis mahasiswa menggalang gerakan koin sastra untuk HB Yasin.

Apa toh yang terjadi dengan HB Yasin? Ya, semua itu berawal dari kisruh dana hibah Pemprov DKI ke Yayasan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin. Di saat genap 11 tahun wafatnya Paus Sastra Indonesia ini, berhembus kabar jika PDS HB Jassinakan ditutup. Ihwalnya, duit hibah dari Pemrov DKI tahun 2011 hanya Rp50 juta per tahun, padahal dana operasional per bulan bisa mencapai Rp200 juta lebih.

Miris juga mendengar kabar ini. Pasalnya, HB Jassin yang wafat dalam usia 83 tahun adalah salah satu tokoh paling berjasa dalam dunia sastra nasional. Bermimpikan sastra Indonesia memiliki tempat dan kedududukan terhorMat di bumi pertiwi, dia mendirikan PDS HB Jassin pada 28 Juni 1976. Sejak saat itu, HB Jassin dengan telaten mendokumentasikan perkembangan sastra Indonesia. Dengan teliti dan tertata rapi, HB Jassin mengumpulkan karya-karya sastra mulai novel, puisi remaja yang tak terkenal yang dipublikasikan di koran atau majalah.

Kemelut PDS HB Jassin ini mengundang penasaran okezone untuk mengetahui lebih jauh apa yang sebenarnya terjadi.Siang itu di sekitar bangunan lantai dua yang bersebelahan dengan Gedung Planetarium Taman Ismail Marzuki Jakarta, masih terlihat rindang dengan pepohonan. Untuk sampai ke ruangan PDS HB Jassin, harus melewati anak tangga berwarna biru yang terbuat dari plat besi.

Sampai juga akhirnya di sebuah gedung tempat karya-karya satra yang mulai dikumpulkan HB Jassin sejak tahun 1930-an. Udara dingin dan suasana tenang seketika itu terasa menyambut. Yah, lumayanlah untuk sejenak meredakan rasa lelah setelah berjibaku dalam kemacetan Ibu Kota yang kian menjadi-jadi.

Meja panjang warna putih yang dijaga seorang petugas tepat berada di hadapan sebelum mengisi sebuah buku tamu. Namanya Sulastro, saat pertama kali menanyakan maksud kedatangan okezone ke tempat itu. Pria berusia 50 tahun ini mengaku bekerja di PDS HB Jassin sudah 20 tahun.

Dengan ramah dan senyum, Sulastro menyapa, “Bisa dibantu Mas?”
“Ya Pak. Di sini koleksi yang unik dan menarik apa ya?”
Sulastro pun menyahut, “Hhmm… Banyak sih Mas. Tapi menurut saya ada majalah terbitan tahun 1920-an cukup menarik untuk dibaca. Gimana Mas?”

Kebetulan salah satu alasan yang mendorong datang ke pusat dokumentasi sastra ini adalah rasa penasaran terhadap koleksi majalah-majalah lawas yang bersejarah. “Menarik tuh pak. Nama majalahnya apa pak?”
“Namanya Majalah ‘Sinpo’. Di sini ada berbagai koleksinya terbitan tahun 1920-an,” ungkap Sulastro.

“Boleh juga tuh pak. Boleh saya pinjam pak buat dibaca di sini? Tapi kalau saya ikut masuk melihat-lihat ruang koleksinya boleh enggak pak?”
“Oh, silahkan mas. Saya antarkan ya,” ucap Sulastro lagi.

Beruntung juga sih diizinkan masuk ke ruangan koleksi tersebut. Udara di ruangan itu dingin sangat terasa di kulit. “Pak, kok ruangannya dingin banget beda sama yang di luar ya?”

“Oh iya mas karena di sini kan hampir semua dokumen berbahan kertas. Agar lebih awet dibantu dengan sistem pendingin udara. Jadi sedikit agak lebih dingin dari suhu ruangan biasa supaya kertas-kertasnya bisa lebih tahan lama,” papar Sulastro menjelaskan.

Di ruangan koleksi tersebut terdapat rak-rak yang tertata rapi dengan ribuan buku berdasarkan nama pengarangnya. Saking banyaknya buku dan dokumen yang terkumpul, sampai-sampai harus diletakkan di bagian paling atas rak. Bahkan meluber ke bawah lantai di pojok ruangan ini. Ruangan itu seakan terus menyempit dengan bertambahnya koleksi setiap saat.

Sayangnya, banyak juga buku-buku yang terlihat mulai usang dengan judul-judul masih memakai ejaan bahasa Indonesia lama. Seperti “Boekoe Tjerita Dahoeloe Kala di Benoewa Negri Tjina” terbitan tahun 1886 oleh Lie Kim Hok & Co.Kemudian ada juga buku ”Sair Tjerita Jaitoe Satoe Nasehat Boeat Peringetan pada Anak-Anak Moeda” tahun 1897 yang diterbitkan di Batavia oleh Yap Goan Hu.

Okezone tersenyum membacanya. Agak sedikit kurang lancar untuk mengeja tulisan tersebut karena takterbiasa.Setelah berkeliling cukup lama, sampai juga di penyimpanan koleksi majalah yang dicari, yakni Majalah “Sinpo”. Di rak tersebut terdapat beberapa buku berwarna coklat tua, yang di bagian luarnya ditulis angka tahun. Angka tersebut menandakan terbitan majalah yang terkumpul dalam tahun itu.

“Silahkan dipilih Mas. Saya balik dulu ke depan ya,” ujar Sulastro mempersilakan.
“Oke. Terima kasih Pak.”

Pandangan tertuju pada buku tahun 1929. Buku tersebut kelihatan agak lebih rapi dan tersusun baik, walaupun masih ada tahun terbitan sebelumnya. Buku tersebut bersampul tebal coklat tua dengan panjang sekira 20 cm dan tebal 5 cm. Saat membuka sampulnya tertera tulisan “Sinpo” Wekelijksche–Editie Tahon KA VII, No.327 Saptoe 6 Juli 1929.

Setelah dibuka, banyak sekali iklan promosi yang lengkap dengan gambar atau pada majalah tersebut. Mayoritas iklan-iklan produk kecantikan dan kesehatan. Seperti iklan produk kesehatan “KRACHT PILLEN HERCULES” Hercules Pendekar Paling Koeat.
Siapa pernah tjoba ini pil, nanti bilang dirinja djadi loear biasa, ia bergoemeter seperti kena hawa electrisch, bernapsoe dan bergoembira sebagi satoe anak moeda jang paling koeat. Dimana-mana temapat ada terdapet agent.

Begitulah lebih kurang tulisan yang terdapat pada iklan tersebut. Pada iklan ini ada gambar karikatur seorang pria gagah tanpa baju hanya mengenakan kain untuk penutup bagian bawahnya sambil mengangkat tangannya untuk menunjukkan keperkasannya. Dan terlihat juga gambar seorang wanita cantik dengan rambut panjang terurai yang tampak malu sambil membelakangi sang pria. Latar belakang gambar tersebut di sebuah taman.

Begitulah gambaran iklan di surat kabar pada saat itu. Melihat gambar dan tulisannya membuat tersenyum, merasa seperti berada pada masa Indonesia tahun 1920-an. Selain iklan, tentu saja terdapat artikel-artikel tentang pemberitaan pada massa itu. Salah-satunya seperti pemberitaan “Sinpo” edisi Saptoe 20 Juli 1929 tentang pendirian Kung Sih School. Dalam artikel tersebut diceritakan bahwa akan dibangun sebuah sekolah oleh seorang warga keturunan Tionghoa untuk mengenang suaminya yang tewas dibunuh serdadu Jepang di Pulau Jawa.

“Seperti orang taoe, njonja Tsai Kung Sih telah koendjoengin Java boeat poengoet oeroenan aken diriken satoe sekola boeat peringetken ia poenja soeami Tsai Kung Sih jang diboenoe mati oleh soldadoe Japan di Tsinan setjara kedjam.” Begitulah isi yang diberitakan Sinpo, kala itu.

Dalam majalah ini tidak terdapat lembar yang memuat susunan redaksi. Tapi setelah diperhatikan ada beberapa bidang pemberitaan yakni Indonesia, Tiongkok dan dunia. Banyak sekali pemberitaan yang terkumpul dalam satu tahun pada saat itu (1929). Membaca majalah ini menambah sedikit pengetahuan dan wawasan saya tentang sejarah pada masa itu. Salah satu contohnya pemberitaan tentang pemenang kontes
kecantikan di dunia. Dalam beritanya, Sinpo menyebutkan yang menjadi pemenangnya adalah Miss Austria.

“Prampoean paling Tjantik di Doenia. Sebagi hasilnja perlombahan katjantikan ini taon Miss Austria dianggap sebagi prampoean paling tjantik di doenia dan Miss New York sebagi djago kecantikan dari New York.” Tulisan ini ada dalam Sinpo edisi Saptoe 31 Augustus 1929 pada rubrik dunia.

Begitulah sedikit gambaran tentang beberapa koleksi yang terdapat di PDS HB Jassin yang salah satunya mengoleksi majalah masa lalu hingga saat ini. Belum lagi tersimpang banyak karya dari berbagai sastrawan tersohor sampai yang tidak dikenal. Tapi Ironis, kondisi PDS HB Jassin ini tengah dilanda masalah anggaran. Pasalnya, terjadi pemangkasan anggaran yang sangat signifikan oleh Pemprov DKI Jakarta. Seperti diungkapkan Ariany Isnamurti, kepala pelaksana PDS HB Jassin.

Ariany menyayangkan kondisi yang terjadi pada PDS HB Jassin saat ini. Menurutnya, pengelolaan PDS tersebut sangat terbentur permasalahan dana. Dana yang dihibahkan untuk PDS mengalami penurunan yang sangat signifikan. “Dana yang cair itu untuk tahun ini hanya Rp50 juta per tahun, jauh dari sebelum-sebelumnya. Dulu bahkan sempat mendapat bantuan dana lebih kurang Rp300 juta, tapi sekarang
jauh sekali berkurangnya,” ungkap Ariany.

Kendala pendanaan tersebut berimbas kepada masalah administrasi dan pelayanan di PDS HB Jassin tersebut. Proses digitalisasi pun jadi terkendala. Hingga saat ini tempat penyimpananan sastra-sastra Indonesia modern mulai dari tahun 1920-an tersebut belum dilengkapi dengan fasilitas komputer. “Bahkan di kantor saja masih menggunakan komputer jenis lama,” terang Ariany.

Mengenai sosok HB Jassin, Ariany menyimpan kenangan tersendiri. HB Jassin, kata dia, sangat cinta dengan sastra. HB Jasin juga ingin masyarakat mencintai sastra. Sebab itu, saat mendirikan PDS, HB Jassin tidak berpikir untung dan rugi sehingga dia rela menyediakan waktu, tenaga dan dana sendiri untuk membangan taman sastra tersebut. “Pesan Pak Jassin, ini pelayanan masyarakat, jangan kenakan banyak uang ke masyarakat. Jangan persulit orang untuk mengetahui data tentang sastra. Jangan menjual sastra,” ungkap Ariany menirukan pesan HB Jassin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: