Pemberantasan Korupsi Setengah Hati?

KOMISI antikorupsi -KPK- ditengarai bakalan makin kurang bertaji dalam pemberantasan korupsi. Apa sebabnya? Ini terkait dengan revisi UU Tipikor. Revisi ini menurut catatan Indonesian Corruption Watch (ICW) mengandung sembilan kelemahan.

Beberapa hal yang menjadi sorotan ICW adalah dihilangkannya ancaman hukuman mati yang sebelumnya diatur di Pasal 2 ayat (2) UU No. 31/1999. Selain itu, menghilangnya Pasal 2 yang paling banyak digunakan aparat penegak hukum dalam menjerat koruptor. Sebagai catatan di KPK di tahun 2010, KPK menjerat 42 tersangka korupsi dengan pasal tentang “kerugian keuangan negara” ini.

Masih menurut ICW, tampaknya ada miss-interpretasi dari penyusun RUU yang mengatakan bahwa UNCAC tidak lagi menganut prinsip tentang kerugian keuangan negara, sehingga RUU Tipikor tidak perlu mengatur soal penyelamatan kerugian negara tersebut. Hal ini tentu akan merugikan pemberantasan korupsi di Indonesia yang sebagian besar masih menekankan pada perampokan aset negara atau keuangan negara. Tidak bisa dibayangkan jika penyelamatan keuangan negara tidak lagi menjadi salah satu prioritas dalam pemberantasan korupsi ke depan. Dalam tataran lebih ekstrim, sebenarnya penghilangan pasal ini bisa membuat kasus-kasus besar seperti Bank Century sulit diproses dengan UU Pemberantasan Korupsi.

Masih ada beberapa catatan dari ICW. Namun semuanya bermuara pada kekhawatiran makin redupnya peran KPK untuk menghabisi para koruptor di negeri ini. Bahkan alih-alih membongkar korupsi, para whistle blower, seperti Susno dan Agus Tjondro pun akan mudah dikriminalkan. Jika benar demikian, maka makin rapatlah persekongkolan jahat itu.

Melihat gelagat dari revisi RUU Tipikor ini memang akan memberikan nuansa baru pada pemberantasan korupsi di Tanah Air. Kini yang dikhawatirkan adalah nuansa baru itu bukannya menuju ke arah perbaikan, melainkan ke arah yang lebih buruk. Efek jera tampaknya akan menjadi hal yang mustahil. Pasalnya ancaman hukuman mati yang selama ini menjadi momok koruptor bakalan ditiadakan.

Bercermin dari keberhasilan China memberantas korupsi, tampaknya efek jera dengan hukuman mati efektif diberlakukan. Di negeri Gingseng yang menurut John Naisbitt dalam bukunya Megatrend China, memiliki budaya untuk menjadi kaya — pada saat itu dengan berbagai cara — yang akhirnya membuat tumbuh suburnya korupsi, dapat berbalik arah ketika elit dan penegak hukum berani memberikan hukuman yang maha berat kepada para “perampok” uang negara ini. Korupsi berhasil ditekan dengan banyaknya elit negeri itu yang dihukum mati. Mereka takut korupsi, namun etos kerja rakyat China telah berubah. Mereka ingin kaya, tapi mereka tidak lagi memperkaya diri sendiri dengah cara merampok uang negara, melainkan dengan bekerja keras dan terus mengasah jiwa wirausahanya.

Revisi RUU Tipikor ini juga terkesan menyederhanakan bahaya laten korupsi. Contohnya, bagi koruptor yang hanya “menilep” uang negara sebesar Rp25 juta bisa bebas dari ancaman bui jika mereka bisa mengembalikan uang tersebut. Duh, akan kontras sekali jika dibandingkan dengan kejadian pencuri buah pisang atau pencuri ayam yang harus mendekam di jeruji selama 3 bulan. Alasan klisenya adalah, kalau aparat fokus pada korupsi “teri” maka korupsi “kakap” atau “megakorusi” bakalan tidak tersentuh. Ah, sebuah alasan mengada-ada. Mestinya apapun namanya korupsi, entah besar atau kecil, harus diberantas habis.

Di sinilah aspek jera tidak muncul. Orang cenderung akan mengulangi kejahatannya. Bahkan tidak tanggung-tanggung justru dikemudian hari akan mencuri uang negara yang lebih besar lagi.

Kiranya jika memang RUU Tipikor ini benar-benar direvisi, sudah sepantasnya memberikan penekanan pada aspek penegakan hukum dan efek jera kepada para pelaku. Bahkan kalau perlu aspek pemiskinan yang sebelumnya santer beredar layak untuk dimasukkan. Biarlah para koruptor itu “mati dalam kemiskinan” daripada perilaku mereka membuat ratusan, ribuan, bahkan jutaan rakyat negeri ini menjerit kelaparan dan hidup dalam kemiskinan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: